Inti Berita:
• Capaian: Produksi padi Lampung 2025 naik dari 2,7 juta ton menjadi 3 juta ton (hampir 15%).
• Target 2026: Gubernur Mirza bidik kenaikan 20% melalui implementasi pupuk organik cair merata.
• Sinergi: Kerja sama pasokan gula ke Jawa Tengah dan suplai cabai/bawang masuk ke Lampung.
• Pesan Presiden: Swasembada adalah harga mati untuk kedaulatan bangsa; petani adalah pahlawan yang paling setia.
(Lingkartani.com): Aura optimisme terpancar dari halaman Kantor PDAM Pesawaran, Desa Kutoarjo, Rabu (7/1/2026). Usai mengikuti Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan Nasional secara virtual bersama Presiden RI Prabowo Subianto, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyatakan kesiapan Lampung menjadi tulang punggung pangan nasional.
Gubernur Mirza mengungkapkan capaian luar biasa pertanian Lampung sepanjang 2025. Produksi padi di Bumi Ruwa Jurai melonjak dari 2,7 juta ton menjadi 3 juta ton. “Alhamdulillah, tahun ini produksi kita naik hampir 15 persen. Kami optimistis di 2026 produksi dapat naik lagi hingga 20 persen,” ujar Gubernur Mirza dengan penuh keyakinan.
Kenaikan produktivitas ini bukan tanpa strategi. Gubernur menjelaskan bahwa pada 2026, penggunaan pupuk organik cair akan diimplementasikan secara merata di seluruh wilayah Lampung. Langkah ini diperkirakan mampu mendongkrak produktivitas lahan hingga 10 persen, sekaligus memperbaiki kualitas tanah pertanian.
Tak Ada Bangsa Merdeka Jika Pangan Bergantung Negara Lain
Dalam arahannya dari Karawang, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa swasembada pangan adalah tonggak strategis sejarah kemerdekaan. Baginya, kedaulatan sebuah bangsa tidak akan pernah utuh selama urusan makan rakyatnya masih bergantung pada negara lain. Pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran pahit betapa berisikonya ketergantungan pangan.
Presiden memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para petani Indonesia. “Kita tidak bakal merdeka tanpa jasa para petani. Para petanilah yang paling setia, yang paling loyal, dan yang paling merah putih di Republik Indonesia ini,” tegas Presiden Prabowo. Ia menekankan bahwa penghormatan ini harus diwujudkan melalui kebijakan nyata yang menyejahterakan petani.
Lebih lanjut, Presiden menyampaikan bahwa pertanian adalah kunci kemandirian yang luas, termasuk energi. Potensi besar tanah subur Indonesia harus dikelola agar bangsa ini tidak lagi menjadi penonton. Keberhasilan swasembada ini adalah bukti bahwa kolaborasi pemerintah pusat, daerah, dan petani mampu membuat Indonesia berdiri di atas kaki sendiri.
Stok Nasional Melimpah dan Sinergi Lampung-Jateng
Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman melaporkan bahwa kinerja sektor pertanian saat ini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah. Stok beras nasional mencapai 3,2 juta ton, jauh melampaui rekor penghargaan FAO tahun 1984 yang hanya 2 juta ton. Capaian ini diiringi dengan Nilai Tukar Petani (NTP) yang menembus angka 125, sebuah indikator meningkatnya kesejahteraan di tingkat tapak.
Di Lampung, sinergi antardaerah terus diperkuat, salah satunya dengan Provinsi Jawa Tengah. Gubernur Mirza menjelaskan pola saling menguatkan: Lampung memasok kebutuhan gula, sementara Jawa Tengah menyuplai cabai dan bawang. “Ini bentuk sinergi menjaga stabilitas pangan nasional,” tambahnya.
Guna menjaga keberlanjutan, Gubernur Mirza telah menginstruksikan seluruh Bupati untuk menginventarisasi dan mendaftarkan Lahan Sawah Berkelanjutan. Langkah tegas ini diambil agar lahan produktif tidak beralih fungsi. Dengan stok melimpah dan pengawasan ketat terhadap harga pangan, Lampung dan Indonesia kini menatap masa depan sebagai bangsa yang mandiri dan berdaulat secara pangan.(*)







