Sinergi Pangan Lampung-Jawa Tengah, Kolaborasi Dua Raksasa Pertanian Demi Swasembada

Minggu, 11 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Mirza bersama Gubernur Jateng sepakati kerjasama dua provinsi penyangga pangan nasional, Lampung dan Jawa Tengah, di bidang pertanian dan ekonomi. (foto: ist)

Gubernur Mirza bersama Gubernur Jateng sepakati kerjasama dua provinsi penyangga pangan nasional, Lampung dan Jawa Tengah, di bidang pertanian dan ekonomi. (foto: ist)

Inti Berita:

Kerja Sama: Gubernur Lampung dan Jawa Tengah resmi memperkuat kolaborasi lintas provinsi.

Fokus Pertanian: Penguatan rantai pasok pangan dan industri pengolahan hasil perkebunan.

Potensi: Jawa Tengah unggul di sektor industri pangan, Lampung kuat di sektor perkebunan dan gerbang logistik.

Target: Menciptakan ekonomi inklusif yang berdampak langsung hingga ke tingkat desa.

(Lingkartani.com): Dua provinsi penyangga pangan nasional, Lampung dan Jawa Tengah, resmi bersepakat untuk saling memperkuat sektor pertanian dan ekonomi. Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa kolaborasi antardaerah ini merupakan strategi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di sektor agraris.

Hubungan antara kedua provinsi ini sejatinya telah berakar kuat sejak lama melalui sejarah transmigrasi. Banyak warga di Lampung yang memiliki nilai-nilai budaya Jawa namun telah bersatu harmonis dengan kearifan lokal Lampung. Fondasi sosial ini menjadi modal besar untuk membangun kerja sama teknis di bidang pertanian dan industri pengolahan.

“Sejarah transmigrasi telah melahirkan generasi yang tumbuh besar untuk Lampung. Kedekatan ini mempermudah kita dalam menyinergikan potensi daerah,” ujar Gubernur Mirza pada Kamis (8/1/2026). Kerja sama ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani di kedua wilayah.

Memperkuat Rantai Pasok Pangan dan Nilai Tambah Produk

Setiap daerah memiliki peran strategis yang saling melengkapi. Jawa Tengah dikenal dengan kekuatan industri pangan dan kualitas sumber daya manusianya. Sementara itu, Lampung memiliki posisi tawar sebagai gerbang Sumatera dengan potensi perkebunan yang melimpah. Sinergi ini akan difokuskan pada penguatan rantai pasok antarwilayah.

Gubernur Mirza menjelaskan bahwa kolaborasi ini akan meningkatkan nilai tambah produk daerah. Produk pertanian Lampung kini tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikerjasamakan dengan industri pengolahan di Jawa Tengah atau sebaliknya. “Hasil yang tercapai tentu akan jauh lebih optimal daripada berjalan sendiri-sendiri,” jelasnya.

Kerja sama ini juga membuka peluang investasi baru yang saling menguntungkan. Dengan terhubungnya jaringan logistik antara pelabuhan di Lampung dan pusat industri di Jawa Tengah, biaya distribusi pangan diharapkan bisa ditekan. Hal ini menjadi langkah konkret dalam mendukung ketahanan pangan nasional dari tingkat daerah hingga perdesaan.

Konektivitas Ekonomi Hingga ke Tingkat Desa

Senada dengan hal tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah pusat. Kerja sama lintas provinsi hingga tingkat desa menjadi mesin penggerak baru bagi ekonomi rakyat. Pertukaran teknologi pertanian dan pola tanam antar-petani di kedua provinsi kini terbuka lebar.

“Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi Pemerintah Provinsi Lampung untuk memperkuat konektivitas ekonomi,” ungkap Ahmad Luthfi. Ia menambahkan bahwa kerja sama yang intensif akan memberikan manfaat langsung, terutama dalam kestabilan harga pangan dan ketersediaan pasar bagi hasil bumi petani.

Harapannya, kolaborasi Lampung dan Jawa Tengah ini terus berlanjut menjadi model kerja sama antardaerah yang sukses. Sinergi dua lumbung pangan ini menjadi benteng pertahanan bagi perekonomian nasional. Dengan saling menguatkan, Lampung dan Jawa Tengah siap menjadi motor penggerak utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia.(*)

Berita Terkait

Serapan Beras Bulog Lampung 2025 Lampaui Target Hingga 130 Persen
Pasar Karbon Indonesia Masuk Panggung Global, Kita Dapat Apa?
Ladang Hijau Penarik Cuan, Saat Pertanian Organik Masuk Bursa Karbon
Lampung Siap Jadi Lumbung Kedelai Nasional, Tekan Impor Lewat Perhutanan Sosial
Pertanian Lampung Naik Kelas, Wagub Jihan Nurlela Gandeng Sucofindo Perkuat Mutu Produk
Gubernur Lampung Dorong Pemanfaatan Teknologi AI untuk Modernisasi Pertanian
Lampung Siap Topang Swasembada Nasional, Gubernur Mirza: Produksi Padi Kita Naik 15 Persen
Menilik Akar Sejarah Pangan, Gubernur Lampung dan Jawa Tengah Kunjungi Museum Transmigrasi

Berita Terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 14:04 WIB

Serapan Beras Bulog Lampung 2025 Lampaui Target Hingga 130 Persen

Sabtu, 17 Januari 2026 - 13:27 WIB

Pasar Karbon Indonesia Masuk Panggung Global, Kita Dapat Apa?

Kamis, 15 Januari 2026 - 21:42 WIB

Lampung Siap Jadi Lumbung Kedelai Nasional, Tekan Impor Lewat Perhutanan Sosial

Kamis, 15 Januari 2026 - 14:27 WIB

Pertanian Lampung Naik Kelas, Wagub Jihan Nurlela Gandeng Sucofindo Perkuat Mutu Produk

Minggu, 11 Januari 2026 - 22:34 WIB

Gubernur Lampung Dorong Pemanfaatan Teknologi AI untuk Modernisasi Pertanian

Berita Terbaru

Pasar karbon Indonesia masuk ke perdagangan karbon global. Namun harga kredit karbon yang 10–25 kali lebih murah dari pasar internasional memunculkan risiko bagi negara dan masyarakat. (foto: ist)

Dinamika

Pasar Karbon Indonesia Masuk Panggung Global, Kita Dapat Apa?

Sabtu, 17 Jan 2026 - 13:27 WIB