Inti Berita:
• Masalah: Kandang individu yang sempit membatasi gerak ayam dan dinilai melanggar prinsip kesejahteraan hewan.
• Solusi: Penerapan sistem bebas sangkar (cage-free) dalam kandang komunal dengan fasilitas bertengger dan kotak sarang.
• Manfaat: Ayam lebih bahagia karena bisa mengekspresikan perilaku alami, serta menghasilkan telur yang lebih berkualitas.
• Tren: Meningkatnya permintaan konsumen terhadap pangan yang sehat dan diproduksi secara etis.
(Lingkartani.com): Dunia peternakan ayam petelur di tanah air kini tengah didorong untuk bertransformasi menuju sistem yang lebih manusiawi. Penggunaan kandang individu yang sempit kini mulai ditinggalkan dan beralih ke sistem pemeliharaan bebas sangkar atau cage-free. Pola ini dinilai memberikan ruang lebih luas bagi ayam untuk mengekspresikan perilaku alaminya.
Pakar peternakan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa ayam petelur secara alami memiliki insting untuk berjalan, mandi debu, dan mencari pakan sendiri. Perilaku khas seperti mengepakkan sayap, meregangkan tubuh, hingga membuat sarang tidak akan pernah bisa ditampilkan jika ayam dikurung dalam sangkar sempit.
“Pemeliharaan dalam kandang individu membatasi ruang gerak ayam. Kondisi ini dinilai melanggar prinsip kesejahteraan hewan atau animal welfare,” ujar Prof. Ronny dalam keterangannya.
Menjaga Kebahagiaan Ayam di Dalam Kandang Komunal
Berbeda dengan sistem umbaran yang membiarkan ayam berkeliaran di luar, sistem bebas sangkar tetap dilakukan di dalam kandang tertutup namun bersifat komunal (bersama). Di dalam kandang ini, peternak wajib menyediakan fasilitas penunjang seperti tempat bertengger, area istirahat, dan kotak sarang khusus untuk bertelur.
Dengan cara ini, ayam tetap terlindungi dari predator dan penyakit luar, namun memiliki kebebasan bergerak. Ayam yang tidak stres dan hidup dalam lingkungan yang nyaman cenderung memiliki kesehatan yang lebih baik. Pola ini menjadi jalan tengah yang cerdas antara produktivitas dan kesejahteraan unggas.
Prof. Ronny menekankan bahwa sistem ini jauh lebih terkontrol dibandingkan sistem tradisional. Aspek kenyamanan ayam menjadi prioritas karena unggas yang bahagia akan memberikan imbal balik yang positif bagi peternaknya.
Telur Lebih Sehat untuk Konsumen yang Peduli Kualitas
Selain soal kebebasan gerak, sistem bebas sangkar ini berpotensi menghasilkan telur yang lebih sehat. Dalam sistem ini, peternak umumnya memberikan asupan pakan alami yang lebih beragam sebagai sumber nutrisi. Pola makan yang mendekati kondisi alami ini diyakini sangat berpengaruh terhadap kualitas protein dan gizi telur yang dihasilkan.
Saat ini, perhatian konsumen terhadap keamanan pangan dan asal-usul produk ternak semakin meningkat. Konsumen kini tidak hanya mencari telur yang murah, tetapi juga telur yang diproduksi dengan cara yang baik dan tidak menyiksa hewan.
Prof. Ronny berharap sistem bebas sangkar ini dapat menjadi alternatif bagi para peternak ayam petelur di Indonesia, termasuk di wilayah Lampung. Dengan mengikuti tren global ini, peternak lokal diharapkan mampu meningkatkan nilai jual produknya sekaligus memenuhi standar kualitas pangan yang diinginkan pasar modern.(*)







