Ladang Hijau Penarik Cuan, Saat Pertanian Organik Masuk Bursa Karbon

Sabtu, 17 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sistem Pertanian Padi Rendah Karbon Memitigasi Emisi Gas Rumah Kaca. (Foto: ist)

Sistem Pertanian Padi Rendah Karbon Memitigasi Emisi Gas Rumah Kaca. (Foto: ist)

Inti Berita

Masalah: Pertanian konvensional dianggap penyumbang emisi metana dan nitrogen yang tinggi ke atmosfer.

Solusi: Menerapkan Pertanian Karbon (Carbon Farming) melalui teknik regeneratif, pengelolaan padi AWD, dan sistem agroforestri.

Data/Biaya: Setiap ton karbon yang terserap tanah organik bernilai satu unit kredit karbon. Perlu agregasi lahan melalui koperasi karena biaya verifikasi mandiri sangat mahal.

(Lingkartani.com): Dunia kini menoleh pada para petani sebagai pahlawan penyelamat iklim lewat praktik Pertanian Karbon (Carbon Farming). Lahan kita bukan lagi dianggap sebagai penyumbang emisi, melainkan penyerap karbon masa depan yang menjanjikan.

Pengelolaan berwawasan lingkungan kini mulai diperhitungkan secara serius dalam bursa karbon global. Peluang ini terbuka lebar karena lembaga internasional seperti Verra dan Gold Standard telah mengakui metodologi sektor pertanian.

Ada tiga teknik utama yang menjadi kunci dalam penilaian kredit karbon dunia. Pertama adalah pertanian regeneratif dengan teknik olah tanah minimum agar karbon tidak lepas ke udara.

Baca Juga  Indonesia Jadi Incaran Malaysia, Negeri Jiran Minta Pasokan Beras dan Belajar Teknologi Tani

Kedua, pengelolaan padi rendah metana melalui pengairan berselang agar sawah tidak selalu tergenang. Ketiga, penggunaan pupuk organik wajib ditingkatkan guna mengurangi ketergantungan pada pupuk nitrogen yang emisinya sangat tinggi.

Tanah pertanian yang dirawat secara organik sejatinya adalah sebuah “bank karbon” yang luar biasa. Kapasitas tanah alami dalam menyerap karbon jauh lebih tinggi dibanding tanah yang rusak akibat bahan kimia.

Dalam pasar global, setiap satu ton karbon yang “dikunci” di dalam tanah bisa dikonversi menjadi satu unit kredit karbon. Unit inilah yang nantinya memiliki nilai jual tinggi bagi perusahaan-perusahaan besar di mancanegara.

Bagi petani di Lampung, sistem kebun campuran atau wana-tani adalah modal berharga yang sudah ada. Kebun kopi atau cokelat di bawah naungan pohon hutan merupakan bentuk nyata Nature Based Solution (NBS).

Baca Juga  Syukuran Pengangkatan, P3K Paruh Waktu Lampung Tanam 1.000 Pohon di Kawasan Kota Baru

Pohon-pohon pelindung di lahan petani akan dihitung sebagai penyerap emisi yang sangat diminati pembeli internasional. Skema agroforestri ini menempatkan petani Lampung sebagai pemain kunci di pasar karbon premium.

Kita bisa belajar dari keberhasilan proyek Katingan Mentaya di Kalimantan dalam menjaga lahan gambut. Mereka membuktikan bahwa menjaga ekosistem tetap basah dan tidak dibakar memiliki nilai ekonomi yang sangat fantastis.

Contoh lain adalah restorasi mangrove yang dipadukan dengan tambak silvofishery di wilayah pesisir. Masyarakat kini bisa meraih pendapatan dari hasil tambak sekaligus insentif dari upaya menjaga hutan bakau.

Petani Berkelompok Songsong Perdagangan Karbon

Inisiatif serupa juga mulai merambah ke sektor perkebunan kopi dan kakao melalui pertanian cerdas iklim. Beberapa koperasi tani kini mulai menanam pohon peneduh sebagai penyerap karbon yang sah untuk diklaim.

Baca Juga  Gubernur Lampung Dorong Pemanfaatan Teknologi AI untuk Modernisasi Pertanian

Namun, tantangan besar seperti tingginya biaya verifikasi dan audit karbon masih membayangi petani kecil. Biaya pengukuran yang mahal membuat petani harus merapatkan barisan agar tidak berjuang sendirian.

Lahan petani yang sempit sangat sulit untuk masuk ke pasar internasional secara mandiri. Bergabung dalam kelompok tani atau koperasi adalah langkah wajib untuk melakukan pengumpulan atau agregasi lahan.

Dengan volume yang besar, barulah kredit karbon dari desa bisa menembus bursa internasional secara kompetitif. Inilah saatnya petani Lampung bersatu mengubah cara kelola lahan menjadi sumber pendapatan baru yang berkelanjutan.(*)

Berita Terkait

Serapan Beras Bulog Lampung 2025 Lampaui Target Hingga 130 Persen
Pasar Karbon Indonesia Masuk Panggung Global, Kita Dapat Apa?
Lampung Siap Jadi Lumbung Kedelai Nasional, Tekan Impor Lewat Perhutanan Sosial
Pertanian Lampung Naik Kelas, Wagub Jihan Nurlela Gandeng Sucofindo Perkuat Mutu Produk
Gubernur Lampung Dorong Pemanfaatan Teknologi AI untuk Modernisasi Pertanian
Lampung Siap Topang Swasembada Nasional, Gubernur Mirza: Produksi Padi Kita Naik 15 Persen
Menilik Akar Sejarah Pangan, Gubernur Lampung dan Jawa Tengah Kunjungi Museum Transmigrasi
Indonesia Swasembada Pangan, Produksi Padi Lampung 2025 Melejit Hingga 14,65 Persen

Berita Terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 14:04 WIB

Serapan Beras Bulog Lampung 2025 Lampaui Target Hingga 130 Persen

Sabtu, 17 Januari 2026 - 13:27 WIB

Pasar Karbon Indonesia Masuk Panggung Global, Kita Dapat Apa?

Kamis, 15 Januari 2026 - 21:42 WIB

Lampung Siap Jadi Lumbung Kedelai Nasional, Tekan Impor Lewat Perhutanan Sosial

Kamis, 15 Januari 2026 - 14:27 WIB

Pertanian Lampung Naik Kelas, Wagub Jihan Nurlela Gandeng Sucofindo Perkuat Mutu Produk

Minggu, 11 Januari 2026 - 22:34 WIB

Gubernur Lampung Dorong Pemanfaatan Teknologi AI untuk Modernisasi Pertanian

Berita Terbaru

Pasar karbon Indonesia masuk ke perdagangan karbon global. Namun harga kredit karbon yang 10–25 kali lebih murah dari pasar internasional memunculkan risiko bagi negara dan masyarakat. (foto: ist)

Dinamika

Pasar Karbon Indonesia Masuk Panggung Global, Kita Dapat Apa?

Sabtu, 17 Jan 2026 - 13:27 WIB