Inti Berita:
• Masalah: Gangguan ketombe akibat pertumbuhan berlebih jamur Pityrosporum ovale di kulit kepala.
• Solusi: Pemanfaatan senyawa aktif belimbing wuluh sebagai agen antijamur alami.
• Data Riset: Ekstrak belimbing wuluh konsentrasi 80% terbukti memberikan zona hambat jamur hingga 8,07 mm.
• Manfaat: Alternatif bahan alami untuk sampo herbal yang ramah lingkungan dan ekonomis.
(Lingkartani.com): Bagi masyarakat Lampung, belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) adalah penghuni setia pekarangan yang tak pernah absen dari meja makan sebagai bahan sambal atau penyedap sayur asam. Namun, di balik rasa asamnya yang pekat, buah kecil ini ternyata menyimpan rahasia besar untuk kesehatan rambut. Riset terbaru membuktikan bahwa belimbing wuluh memiliki senjata ampuh untuk membasmi ketombe.
Jamur Pityrosporum ovale selama ini dikenal sebagai biang keladi munculnya ketombe yang seringkali mengganggu kepercayaan diri. Peneliti dari Universitas Sari Mutiara Indonesia dan UIN Sumatera Utara melakukan pembuktian ilmiah mengenai hal ini melalui riset berjudul “Uji Daya Hambat Antijamur Buah Belimbing Wuluh terhadap Pertumbuhan Pityrosporum ovale” yang dipublikasikan pada 2020.
Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa buah ini adalah gudang senyawa aktif. Belimbing wuluh kaya akan flavonoid, saponin, alkaloid, dan tanin. Keempat senyawa ini dikenal luas di dunia medis memiliki sifat antiseptik, antijamur, dan anti-inflamasi atau pereda peradangan pada kulit.
Kekuatan Ekstrak Alami Melawan Jamur Kulit Kepala
Dalam penelitian tersebut, belimbing wuluh diolah menjadi ekstrak melalui proses perendaman khusus (maserasi). Saat diuji terhadap jamur penyebab ketombe, ekstrak ini menunjukkan hasil yang sangat positif. Kekuatan hambatannya terhadap jamur meningkat seiring dengan tingginya konsentrasi ekstrak yang digunakan.
Pada konsentrasi 20% hingga 80%, daya hambat yang terbentuk mencapai 6,26 mm hingga 8,07 mm. Meski efektivitasnya masih di bawah bahan sintetis seperti ketoconazole (bahan aktif sampo kimia), potensi alami belimbing wuluh tetap menjadi kabar baik bagi mereka yang ingin beralih ke perawatan rambut berbasis herbal.
“Kombinasi kandungan aktifnya menjadikan buah ini berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan dasar sampo herbal atau tonik rambut alami yang lebih aman bagi kulit kepala,” tulis laporan riset tersebut.
Potensi Hilirisasi Tanaman Pekarangan di Lampung
Bagi masyarakat pedesaan di Lampung, temuan ini memberikan nilai tambah bagi tanaman yang selama ini sering dibiarkan jatuh membusuk jika tidak digunakan sebagai bahan masakan. Pemanfaatan belimbing wuluh untuk perawatan rambut bisa menjadi solusi ekonomis dan ramah lingkungan dibandingkan harus bergantung pada produk kimia pabrikan.
Langkah kecil seperti menggosokkan belimbing wuluh pada kulit kepala adalah bentuk kearifan lokal yang kini telah mendapat legitimasi ilmiah. Hilirisasi sederhana dari pekarangan rumah ini membuktikan bahwa alam selalu menyediakan penawar bagi masalah kita sehari-hari.
Ke depan, pengembangan produk perawatan rambut berbahan dasar belimbing wuluh diharapkan dapat terus didorong. Dengan sentuhan teknologi dan pengemasan yang baik, buah asam dari kebun ini bukan tidak mungkin akan menghuni rak-rak toko kosmetik sebagai produk unggulan daerah.(*)







