Inti Berita:
• Permintaan Ekspor: Malaysia secara resmi meminta bantuan pasokan beras kepada Indonesia.
• Alasan: Malaysia tertarik dengan produktivitas padi Indonesia yang mampu mencapai 7-12 ton per hektare.
• Syarat: Pemerintah akan mengekspor jika kebutuhan dalam negeri sudah melampaui batas aman.
• Volume: Kebutuhan beras Malaysia diperkirakan mencapai 2.000 ton per bulan.
(Lingkartani.com): Keberhasilan Indonesia meraih swasembada pangan pada 2025 kini mulai menarik perhatian dunia internasional. Negara tetangga, Malaysia, secara terang-terangan meminta bantuan pasokan pangan kepada Indonesia. Permintaan ekspor beras ini menjadi sinyal kuat bahwa ketahanan pangan kita semakin diakui di kawasan regional.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengungkapkan bahwa permintaan bantuan pangan dari negara sahabat terus berdatangan. Selain bantuan kemanusiaan yang telah dikirim ke Palestina, Malaysia kini menjadi salah satu negara yang berharap mendapatkan kiriman beras dari tanah air.
“Kalau memang kita sanggup, ya kita akan berikan bantuan. Contohnya dari Malaysia,” ujar Prasetyo di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Jawa Barat, Selasa (7/1/2026) malam. Meski begitu, pemerintah tetap memprioritaskan kecukupan stok di dalam negeri sebelum membuka keran ekspor secara luas.
Malaysia Ingin Tiru Teknologi Padi Indonesia
Ketertarikan Malaysia ternyata bukan hanya soal butiran berasnya, melainkan juga teknologi pertaniannya. Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan Malaysia, Datuk Seri Haji Mohamad Bin Sabu, mengakui bahwa teknologi tani di Indonesia jauh lebih maju. Mereka kagum melihat produktivitas padi kita yang melonjak signifikan.
Dalam beberapa pertemuan, Malaysia menyatakan keinginannya untuk mencontoh metode peningkatan produksi yang diterapkan Indonesia. Saat ini, rata-rata hasil panen di Indonesia mencapai 7 ton per hektare, bahkan di beberapa lokasi unggulan bisa menembus 12 hingga 13 ton.
“Beras ini kami ingin lebih tumpu kepada teknologi yang dilihat di Indonesia ini lebih advance dalam menemukan teknologi baru,” ungkap Mohamad Bin Sabu. Hal ini menjadi pengakuan nyata bahwa inovasi pertanian yang selama ini digalakkan oleh Kementan telah membuahkan hasil yang kompetitif.
Lampu Hijau dari Presiden Prabowo untuk Ekspor
Rencana ekspor beras ke Malaysia ini nampaknya telah mendapatkan perhatian serius dari Presiden Prabowo Subianto. Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, sebelumnya menyebut bahwa Malaysia membutuhkan pasokan sekitar 2.000 ton beras setiap bulannya. Presiden sendiri telah memberikan lampu hijau terkait rencana strategis ini.
“Sesuai perintah Presiden, mekanismenya apa, kita ikuti. Yang jelas kita siap untuk ekspor beras ke Malaysia,” kata Sudaryono. Hingga awal 2026, pembicaraan teknis terus dilakukan untuk memastikan pengiriman tersebut tidak mengganggu stabilitas harga di pasar domestik Indonesia.
Langkah ekspor ini jika terwujud akan menjadi tonggak sejarah baru bagi sektor pertanian kita. Dari negara pengimpor, kini Indonesia bertransformasi menjadi penyangga pangan bagi negara tetangga. Prestasi ini diharapkan semakin memacu semangat para petani, termasuk di Lampung, untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi padi nasional.(*)







