Inti Berita:
• Inovasi: Pemanfaatan minyak atsiri jeruk nipis (Citrus aurantifolia) sebagai agen antibakteri pada kain melalui teknologi mikrokapsul.
• Manfaat: Menciptakan pakaian medis dan olahraga yang ramah lingkungan, kedap air, serta tahan lama.
• Efisiensi: BRIN juga kembangkan pelapis Ni-Cr untuk memperpanjang umur komponen pembangkit listrik nasional.
• Tren: Minat global terhadap tekstil higienis tumbuh hingga 27 persen per tahun sejak pandemi.
(Lingkartani.com): Siapa sangka jeruk nipis yang akrab dengan dapur masyarakat Indonesia kini bertransformasi menjadi teknologi tekstil canggih. Melalui Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sukses mengembangkan inovasi kain antibakteri yang memanfaatkan minyak atsiri jeruk nipis sebagai bahan utamanya.
Teknologi ini menggunakan sistem mikrokapsul yang memungkinkan aroma dan senyawa aktif antibakteri dari minyak atsiri dilepaskan secara bertahap. Hasilnya, fungsi perlindungan pada kain menjadi lebih optimal dan tahan lama. Terobosan ini menjadi angin segar bagi industri tekstil nasional untuk menghasilkan produk yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
“Pengembangan tekstil antibakteri kian relevan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap higienitas,” ujar Peneliti Ahli Madya BRIN, Tatang Wahyudi, dalam webinar ORNAMAT ke-78, Selasa (23/12/2025). Tren penggunaan kain fungsional ini terus melonjak hingga 27 persen setiap tahunnya.
Dari Pakaian Medis Hingga Perlindungan Sinar UV
Inovasi tekstil berbasis minyak atsiri jeruk nipis ini memiliki potensi aplikasi yang sangat luas. Mulai dari pakaian medis untuk tenaga kesehatan, seragam olahraga, hingga perlengkapan militer. Kain ini tidak hanya mampu membunuh bakteri, tetapi juga dapat dipadukan dengan fitur hidrofobik yang membuatnya kedap air.
Lebih dari itu, BRIN juga merancang kain ini agar memiliki fungsi tambahan seperti perlindungan dari paparan sinar ultraviolet (UV), sifat tahan api, hingga pengatur suhu tubuh. Penggunaan bahan alami seperti jeruk nipis memastikan produk ini tetap aman bersentuhan dengan kulit manusia sekaligus mendukung pemanfaatan hasil perkebunan lokal secara lebih modern.
Bagi petani jeruk di daerah, riset ini memberikan harapan baru tentang hilirisasi produk pertanian. Hilirisasi berbasis riset seperti ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan Indonesia di pasar global.
Tingkatkan Efisiensi Pembangkit Listrik Nasional
Selain urusan tekstil, BRIN juga fokus pada penguatan ketahanan industri energi. Salah satunya adalah pengembangan pelapis komposit nikel-kromium (Ni-Cr) untuk komponen boiler di pembangkit listrik tenaga uap. Teknologi ini bertujuan untuk menekan angka kerusakan komponen akibat erosi yang sering menjadi kendala di lapangan.
Peneliti BRIN, Erie Martides, menjelaskan bahwa pelapis ini mampu memperpanjang umur pakai boiler secara signifikan. Dengan komponen yang lebih tangguh, biaya perawatan pembangkit listrik dapat ditekan, sehingga keandalan pasokan listrik nasional lebih terjaga hingga masa depan.
Kepala ORNM BRIN, Prof. Ratno Nuryadi, mengapresiasi inovasi-inovasi yang lahir dari para peneliti tanah air. Beliau menegaskan bahwa riset material harus memberikan dampak nyata bagi efisiensi industri dan kesehatan masyarakat. Melalui dialog ilmiah dan kolaborasi, gagasan-gagasan canggih ini diharapkan segera bisa diproduksi secara massal untuk kemaslahatan bangsa.(*)







