Pasar Karbon Indonesia Masuk Panggung Global, Kita Dapat Apa?

Sabtu, 17 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasar karbon Indonesia masuk ke perdagangan karbon global. Namun harga kredit karbon yang 10–25 kali lebih murah dari pasar internasional memunculkan risiko bagi negara dan masyarakat. (foto: ist)

Pasar karbon Indonesia masuk ke perdagangan karbon global. Namun harga kredit karbon yang 10–25 kali lebih murah dari pasar internasional memunculkan risiko bagi negara dan masyarakat. (foto: ist)

Inti Berita

Masalah: Harga kredit karbon Indonesia masih sangat rendah (Rp96 ribu–Rp144 ribu/ton), jauh di bawah harga internasional, sehingga berisiko hanya menjadi alat pemutihan dosa polusi perusahaan besar.

Solusi: Pemerintah perlu menata ulang kebijakan harga yang adil, memperkuat transparansi, serta memastikan biaya sertifikasi tidak lebih besar dari pendapatan (agar negara tidak rugi).

Data/Biaya: Harga karbon lokal tercatat 10 hingga 25 kali lebih murah dibandingkan standar pasar global di negara maju.

(Lingkartani.com): Pasar karbon Indonesia mulai masuk ke panggung global setelah pemerintah menjalin kerja sama saling pengakuan dengan lembaga standar karbon internasional. Kesepakatan ini membuka jalan bagi Indonesia untuk ikut berdagang “hak emisi” lintas negara. Banyak yang melihatnya sebagai peluang ekonomi sekaligus kontribusi iklim. Namun, di balik sambutan itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar.

Indonesia memang memiliki modal alam yang besar. Hutan tropis yang luas, mangrove di sepanjang pesisir, serta lahan gambut yang dalam. Tak pelak potensi tersebut menjadikan negeri ini salah satu penyimpan karbon alami terbesar di dunia. Alam Indonesia selama ini menahan karbon agar tidak lepas ke atmosfer dan memperparah krisis iklim. Potensi inilah yang kini dilirik pasar karbon global.

Baca Juga  Resmi Jadi Pegawai Pusat, 100 Penyuluh Pertanian Lampung Selatan Siap Kawal Swasembada Pangan

Namun, ketika karbon diubah menjadi komoditas, cerita menjadi lebih rumit. Sejumlah pengamat mengingatkan adanya ketimpangan relasi dalam perdagangan karbon. Negara berkembang seperti Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok jasa lingkungan berbiaya murah. Sementara itu, manfaat terbesar justru dinikmati oleh perusahaan besar di negara maju.

Kekhawatiran itu tercermin dari harga kredit karbon Indonesia. Saat ini, harganya tercatat sekitar 10 hingga 25 kali lebih rendah dibanding harga internasional. Dalam hitungan lokal, nilainya berkisar Rp96 ribu hingga Rp144 ribu per ton karbon. Angka ini membuat perusahaan dapat menebus emisi dengan biaya yang relatif kecil.

Sebagai perbandingan, di sejumlah pasar karbon luar negeri, harga karbon telah berada pada level yang jauh lebih tinggi. Di Eropa dan beberapa negara maju, harga karbon sengaja dipatok mahal agar perusahaan terdorong benar-benar menurunkan emisi. Harga tinggi itu menjadi sinyal bahwa mencemari lingkungan bukan lagi pilihan murah. Perbedaan inilah yang membuat posisi Indonesia tampak timpang di pasar karbon global.

Seorang pengamat kebijakan iklim pernah mengingatkan, jika harga karbon terlalu rendah, pasar justru kehilangan fungsi utamanya. Alih-alih mendorong perubahan perilaku industri, perdagangan karbon hanya berubah menjadi alat administrasi untuk membersihkan laporan emisi. Dalam kondisi seperti itu, krisis iklim tetap berjalan, sementara angka-angka di atas kertas tampak seolah membaik.

Baca Juga  Indonesia Jadi Incaran Malaysia, Negeri Jiran Minta Pasokan Beras dan Belajar Teknologi Tani

Di sisi lain, ada pula pandangan yang melihat pasar karbon sebagai langkah awal yang realistis. Menurut pendapat pro–pasar karbon, mekanisme ini setidaknya memberi nilai ekonomi pada ekosistem yang selama ini tak dihargai. Dengan insentif finansial, hutan, mangrove, dan gambut dianggap memiliki peluang lebih besar untuk dijaga. Pasar karbon, dalam pandangan ini, bukan solusi akhir, melainkan pintu masuk menuju kebijakan iklim yang lebih kuat.

Harga yang murah tetap membawa konsekuensi serius. Perusahaan dapat terus membeli kredit karbon tanpa dorongan kuat untuk mengubah teknologi atau beralih ke energi bersih. Pengurangan emisi pun lebih banyak terjadi di atas kertas. Sementara itu, perubahan nyata di lapangan berjalan lambat.

Di sisi lain, dampak emisi tidak pernah benar-benar murah. Cuaca panas ekstrem, banjir, dan kebakaran hutan tetap dirasakan masyarakat. Biaya sosial dan ekologis dari krisis iklim tidak tercermin dalam harga kredit karbon. Beban tersebut justru ditanggung negara dan warga yang hidup di sekitar ekosistem karbon.

Biaya Besar di Balik Pasar Karbon Global

Masuk ke pasar karbon global juga menuntut ongkos yang tidak kecil. Negara harus menanggung biaya sertifikasi, verifikasi, audit, hingga berbagai mekanisme pengawasan agar perdagangan karbon diakui secara internasional. Semua proses ini membutuhkan dana, lembaga yang kuat, serta sumber daya manusia yang siap.

Baca Juga  Lampung Siap Jadi Lumbung Kedelai Nasional, Tekan Impor Lewat Perhutanan Sosial

Masalahnya, dengan harga karbon yang masih rendah, pendapatan dari perdagangan karbon Indonesia dinilai belum cukup menutup biaya tersebut. Risiko munculnya beban baru bagi keuangan negara pun mengintai. Alih-alih untung, negara bisa justru nombok.

Di tengah hiruk-pikuk pasar karbon, partisipasi publik masih tertinggal. Mekanisme pengaduan dan pemantauan pelanggaran belum berjalan kuat. Padahal, masyarakat lokal adalah pihak yang hidup langsung berdampingan dengan hutan, mangrove, dan lahan gambut. Tanpa keterlibatan mereka, kebijakan mudah mengabaikan hak dan kepentingan warga.

Dengan berbagai persoalan tersebut, pasar karbon Indonesia tidak bisa diperlakukan sekadar sebagai peluang cepat. Pemerintah perlu menata ulang arah kebijakan dengan lebih hati-hati. Transparansi, kesiapan lembaga, harga yang adil, serta perlindungan masyarakat harus menjadi pijakan utama. Tanpa itu, pasar karbon berisiko berubah dari harapan menjadi beban jangka panjang.(*)

Berita Terkait

Serapan Beras Bulog Lampung 2025 Lampaui Target Hingga 130 Persen
Ladang Hijau Penarik Cuan, Saat Pertanian Organik Masuk Bursa Karbon
Lampung Siap Jadi Lumbung Kedelai Nasional, Tekan Impor Lewat Perhutanan Sosial
Pertanian Lampung Naik Kelas, Wagub Jihan Nurlela Gandeng Sucofindo Perkuat Mutu Produk
Gubernur Lampung Dorong Pemanfaatan Teknologi AI untuk Modernisasi Pertanian
Lampung Siap Topang Swasembada Nasional, Gubernur Mirza: Produksi Padi Kita Naik 15 Persen
Menilik Akar Sejarah Pangan, Gubernur Lampung dan Jawa Tengah Kunjungi Museum Transmigrasi
Indonesia Swasembada Pangan, Produksi Padi Lampung 2025 Melejit Hingga 14,65 Persen

Berita Terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 14:04 WIB

Serapan Beras Bulog Lampung 2025 Lampaui Target Hingga 130 Persen

Sabtu, 17 Januari 2026 - 13:27 WIB

Pasar Karbon Indonesia Masuk Panggung Global, Kita Dapat Apa?

Kamis, 15 Januari 2026 - 21:42 WIB

Lampung Siap Jadi Lumbung Kedelai Nasional, Tekan Impor Lewat Perhutanan Sosial

Kamis, 15 Januari 2026 - 14:27 WIB

Pertanian Lampung Naik Kelas, Wagub Jihan Nurlela Gandeng Sucofindo Perkuat Mutu Produk

Minggu, 11 Januari 2026 - 22:34 WIB

Gubernur Lampung Dorong Pemanfaatan Teknologi AI untuk Modernisasi Pertanian

Berita Terbaru

Pasar karbon Indonesia masuk ke perdagangan karbon global. Namun harga kredit karbon yang 10–25 kali lebih murah dari pasar internasional memunculkan risiko bagi negara dan masyarakat. (foto: ist)

Dinamika

Pasar Karbon Indonesia Masuk Panggung Global, Kita Dapat Apa?

Sabtu, 17 Jan 2026 - 13:27 WIB